Powered By Blogger

Rabu, 17 Februari 2016

Pembelajaran Berbasis Etnomatematika


Pembelajaran matematika di kelas saat ini cenderung terkesan formal, kaku, kurang inovasi, teoritis dan kurang kontekstual. Matematika yang diajarkan di sekolah jauh dari konteks kehidupan sehari-hari. Siswa lebih banyak diajari teori, rumus dan latihan soal yang kurang kontekstual. Karena memang tuntunan kurikulum yang seperti itu. Siswa hanya dituntut untuk lancar mengerjakan soal dan lulus di ujian nasional tidak peduli siswa memahami terapan matematika untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga siswa kurang memahami makna dan manfaat matematika dan juga jauh dari konteks nyata. Banyak siswa yang tidak tertarik mempelajari matematika karena menganggap matematika sulit dan tidak ada gunanya. Untuk itu diperlukan metode yang tepat untuk menyajikan matematika yang dekat dengan kehidupan siswa agar siswa mempunyai motivasi tinggi untuk belajar matematika. Salah satunya dengan etnomatika atau pembelajaran matematika berbasis budaya.
Etnomatematika adalah pendekatan yang digunakan untuk pembelajaran matematika menggunakan media budaya yang ada di sekitar siswa. Etnomatematika memiliki arti yang luas bukan sekedar etno (etnis) atau suku. Tetapi juga berhubngan dengan kebiasaan yang ada di masyarakat atau lingkungan tempat tinggal siswa. Dengan etnomatematika pembelajaran matematika dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Meskipun pembelajaran etnomatematika berbasis budaya (masyarakat sekitar) bukan berarti kuno tetapi pembelajaran yang inovatif dan memiliki perspektif global. Pembelajaran dengan etnomatematika lebih cocok digunakan daripada pembelajaran matematika tradisional karena merupakan pembelajaran matematika realistik (nyata, ada di kehidupan sehari-hari).
            Dalam pembelajaran etnomatematika guru dapat menggunakan budaya sebagai  media pembelajaran matematika. Budaya tersebut dapat berupa artefak, karya maupun tingkah laku masyarakat sekitar. Guru dapat mengkolaborasikan budaya yang ada dengan materi matematika yang ada di sekolah. Misalnya pada pembelajaran geometri guru dapat menggunakan ilustrasi candi. Pada struktur candi dapat ditunjukkan bahwa terdiri dari beberapa bangun. Pada bangunan candi dapat mempresentasikan bangunan persegi, persegi panjang, segitiga, balok, kubus, dan gabungan beberapa bangun. Selain itu juga dapat menggunakan media karya sastra, gamelan, lagu tradisional, adat istiadat dan lain sebagainya.
            Dengan etnomatematika siswa akan tertarik belajar matematika, pembelajaran menyenangkan, memahami makna matematika dan tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai. Namun perkembangan matematika di Indonesia belum begitu baik. Sedikit guru yang menggunakan pendekatan ini. Banyak guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Banyak guru yang beranggap bahwa menggunakan etnomatematika rumit karena butuh inovasi dan guru harus bekerja lebih. Selain itu banyak guru ataupun sekolah yang beranggapan bahwa menggunakan etnomatematika kurang efektif dan membuang waktu untuk latihan soal. Saat ini banyak guru atau kepala sekolah yang berusaha membangun citra baik sekolah dengan mengukir nilai yang tinggi di Ujian Nasional yaitu dengan banyak melakukan drill soal setara ujian nasional yang sangat teoritis dan tidak mengandung masalah matematika yang ada di kehidupan sehari-hari. Dengan cara seperti itu siswa memang jadi pandai menerapkan rumus dan melakukan kalkulasi untuk menemukan solusi yang ada di soal. Namun ketika dihadapkan pada soal cerita dengan masalah matematika realistik yang ada di kehidupan sehari-hari siswa banyak yang bingung dan tidak mampu menyelesaikannya. Terbukti pada saat mengikuti program PISA dan TIMSS yang mengukur kemampuan matematika siswa, hasil atau score matematika siswa Indonesia sangat rendah dan berada di posisi hampir terbawah. Karena soal yang di ujikan pada PISA dan TIMSS merupakan masalah terapan yang ada di kehidupan sehari-hari. Bagi negara-negara dengan sistem pendidikan baik dapat mengerjakan soal se-level Program for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) karena pada pembelajaran matematika sekolah sudah biasa diajarkan matematika realistik.
Di rasa bahwa banyak guru yang menganggap etnomatematika kurang penting dan kurang efektif. Padahal etnomatematika membuat siswa sadar bahwa matematika dekat dengan kehidupan mereka dan membuat motivasi belajarnya tinggi. Untuk itu diperlukan pemahaman kepada guru-guru ataupun calon guru terutama yang masih muda dan penuh inovasi agar menyadari pentingnya etnomatematika dan dapat menerapkannya pada pembelajarannya di sekolah.

Daftar Pustaka
http://www.kompasiana.com/hadi_dsaktyala/ethnomathematics-matematika-dalam-perspektif-budaya_551f62a4a333118940b659f

0 komentar:

Posting Komentar