Pembelajaran
matematika di kelas saat ini cenderung terkesan formal, kaku, kurang inovasi,
teoritis dan kurang kontekstual. Matematika yang diajarkan di sekolah jauh dari
konteks kehidupan sehari-hari. Siswa lebih banyak diajari teori, rumus dan
latihan soal yang kurang kontekstual. Karena memang tuntunan kurikulum yang
seperti itu. Siswa hanya dituntut untuk lancar mengerjakan soal dan lulus di
ujian nasional tidak peduli siswa memahami terapan matematika untuk menyelesaikan
masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga siswa kurang memahami makna dan
manfaat matematika dan juga jauh dari konteks nyata. Banyak siswa yang tidak
tertarik mempelajari matematika karena menganggap matematika sulit dan tidak
ada gunanya. Untuk itu diperlukan metode yang tepat untuk menyajikan matematika
yang dekat dengan kehidupan siswa agar siswa mempunyai motivasi tinggi untuk
belajar matematika. Salah satunya dengan etnomatika atau pembelajaran
matematika berbasis budaya.
Etnomatematika
adalah pendekatan yang digunakan untuk pembelajaran matematika menggunakan
media budaya yang ada di sekitar siswa. Etnomatematika memiliki arti yang luas
bukan sekedar etno (etnis) atau suku. Tetapi juga berhubngan dengan kebiasaan yang ada di
masyarakat atau lingkungan tempat tinggal siswa. Dengan etnomatematika
pembelajaran matematika dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Meskipun
pembelajaran etnomatematika berbasis budaya (masyarakat sekitar) bukan berarti
kuno tetapi pembelajaran yang inovatif dan memiliki perspektif global.
Pembelajaran dengan etnomatematika lebih cocok digunakan daripada pembelajaran
matematika tradisional karena merupakan pembelajaran matematika realistik
(nyata, ada di kehidupan sehari-hari).
Dalam
pembelajaran etnomatematika guru dapat menggunakan budaya sebagai media pembelajaran matematika. Budaya
tersebut dapat berupa artefak, karya maupun tingkah laku masyarakat sekitar. Guru
dapat mengkolaborasikan budaya yang ada dengan materi matematika yang ada di
sekolah. Misalnya pada pembelajaran geometri guru dapat menggunakan ilustrasi
candi. Pada struktur candi dapat ditunjukkan bahwa terdiri dari beberapa
bangun. Pada bangunan candi dapat mempresentasikan bangunan persegi, persegi
panjang, segitiga, balok, kubus, dan gabungan beberapa bangun. Selain itu juga
dapat menggunakan media karya sastra, gamelan, lagu tradisional, adat istiadat
dan lain sebagainya.
Dengan etnomatematika siswa akan
tertarik belajar matematika, pembelajaran menyenangkan, memahami makna
matematika dan tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai. Namun
perkembangan matematika di Indonesia belum begitu baik. Sedikit guru yang
menggunakan pendekatan ini. Banyak guru masih menggunakan metode pembelajaran
konvensional. Banyak guru yang beranggap bahwa menggunakan etnomatematika rumit
karena butuh inovasi dan guru harus bekerja lebih. Selain itu banyak guru
ataupun sekolah yang beranggapan bahwa menggunakan etnomatematika kurang
efektif dan membuang waktu untuk latihan soal. Saat ini banyak guru atau kepala
sekolah yang berusaha membangun citra baik sekolah dengan mengukir nilai yang
tinggi di Ujian Nasional yaitu dengan banyak melakukan drill soal setara ujian
nasional yang sangat teoritis dan tidak mengandung masalah matematika yang ada
di kehidupan sehari-hari. Dengan cara seperti itu siswa memang jadi pandai
menerapkan rumus dan melakukan kalkulasi untuk menemukan solusi yang ada di
soal. Namun ketika dihadapkan pada soal cerita dengan masalah matematika
realistik yang ada di kehidupan sehari-hari siswa banyak yang bingung dan tidak
mampu menyelesaikannya. Terbukti pada saat mengikuti program PISA dan TIMSS
yang mengukur kemampuan matematika siswa, hasil atau score matematika siswa
Indonesia sangat rendah dan berada di posisi hampir terbawah. Karena soal yang
di ujikan pada PISA dan TIMSS merupakan masalah terapan yang ada di kehidupan
sehari-hari. Bagi negara-negara dengan sistem pendidikan baik dapat mengerjakan
soal se-level Program for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) karena pada pembelajaran matematika sekolah sudah
biasa diajarkan matematika realistik.
Di rasa
bahwa banyak guru yang menganggap etnomatematika kurang penting dan kurang
efektif. Padahal etnomatematika membuat siswa sadar bahwa matematika dekat
dengan kehidupan mereka dan membuat motivasi belajarnya tinggi. Untuk itu
diperlukan pemahaman kepada guru-guru ataupun calon guru terutama yang masih
muda dan penuh inovasi agar menyadari pentingnya etnomatematika dan dapat
menerapkannya pada pembelajarannya di sekolah.
Daftar Pustaka
http://www.kompasiana.com/hadi_dsaktyala/ethnomathematics-matematika-dalam-perspektif-budaya_551f62a4a333118940b659f











