Dalam ilmu matematika, tentunya kita tidak asing lagi dengan istilah
algoritma, geometri, trigonometri dan aljabar. Dan tentunya juga tidak
bisa lepas dari penggunaan angka-angka. Namun apakah kalian tahu, siapa
penemu hebat dari semua itu? Albert Einstein? Isaac Newton? Aristoteles?
Pasti kalian berpikir bahwa pencetus bidang-bidang matematika di atas
adalah ilmuwan dari Eropa. Iya kan? Jika benar kalian berpikir seperti
itu, jawaban kalian adalah salah. Penemunya orang timur lhoo… Namanya
Al-Khawarizmi.
Al-Khawarizmi lahir pada tahun 780 M/194 H di kota Khawarizmi (Kheva)
sebelah selatan sungai Oxus, yang sekarang lebih dikenal dengan
Uzbekistan. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa
al-Khawarizmi. Al-Khawarizmi adalah cendekiawan Islam yang ahli di
bidang matematika. Beliau adalah peletak ilmu aljabar modern, algoritma,
trigonometri, sistem bilangan, kalkulasi integral dan persamaan.
Di dunia barat, Al-Khawarizmi lebih dikenal dengan nama Algorizm atau
Algoarismi yang artinya adalah aritmatika atau ilmu hitung decimal
dengan menggunakan angka Arab. Nama itu disematkan kepadanya karena
Beliau sangat berjasa di bidang Algoritma yaitu prosedur sistematis
untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas.
Al-Khawarizmi hidup pada masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya pada
pemerintahan khalifah Abu Abbas Abdullah al-Ma’mun Ar Rasyid yaitu
putera khalifah Harun Ar-Rasyid. Tak lama setelah khalifah Ma’mun
dilantik, Al-Khawarizmi beserta keluarganya hijrah dari Uzbekistan ke
Baghdad. Kecerdasannya sudah muncul sejak kecil. Sehingga tak heran
kalau khalifah Ma’mun mengenalnya. Pada masa mudanya, beliau mendapat
tugas untuk mengelola bait al hikmah (rumah kearifan), sebuah lembaga
penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan oleh
khalifah Ma’mun. Beliau juga mendapat tugas untuk memimpin perpustakaan
Abbasiyah.
Al-Khawarizmi adalah orang yang pertama kali menemukan angka 0 (nol)
atau yang dalam bahasa Arab disebut Sifr. Kalian pasti tahu kan gimana
ribetnya kalau nggak ada angka 0 (nol). Kita nggak tahu gimana caranya
membedakan bilangan 1002, 102 dan 12. Sebelum angka 0 (nol) ditemukan
para ilmuwan menggunakan Abacus , yaitu daftar yang menunjukkan satuan,
puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya, agar setiap angka tidak saling
tertukar dari tempat yang telah ditentukan. Orang-orang barat baru
menggunakan angka 0 (nol) 250 tahun setelah ditemukannya angka tersebut
oleh Al-Khawarizmi. Mereka lebih senang menggunakan ragam Al-Binji
daripada Abacus. Ragam Al-Binji adalah daftar angka Arab, termasuk angka
0 (nol) yang ditemukan Al-Khawarizmi. Karya Al-Khawarizmi tentang angka
India dan angka 0 (nol) diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Prince
Boncompagni dengan judul Trattati d’ arithmatica.
Al Mukhtasar fi Hisab Al-Jabr wa Al-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan
Aljabar dan Perbandingan) adalah karya Al-Khawarizmi yang sangat
terkenal dan menjadi acuan di perguruan tinggi di Eropa sampai abad 17.
Buku itu memuat pengertia-pengertian geometris, teorema segitiga sama
kaki, perhitungan tinggi dan luas segitiga, luas segiempat, luas jajar
genjang, luas lingkaran dan harga phi. Yang dimaksudkan harga phi adalah
perbandingan keliling lingkarang dengan terhadap diameter. Dalam
bukunya beliau mengajukan contoh-contoh persoalan matematika dan
mengemukakan 800 masalah matematika yang sebagian besar adalah
dugaan-dugaan yang dikemukakan oleh Neo Babylian yang kemudian
dibuktikan oleh Al-Khawarizmi. Buku itu diterjemahkan di London pada
tahun 1831 M oleh seorang matematikawan Inggris, F. Rosen, yang kemudian
diedit ke dalam bahasa Arab pada tahun 1939 oleh matematikawan Mesir,
Ali Mustafa Musyarrafa dan Muhammad Mursi Ahmad. Sebagian karya-karya
Al-Khawarizmi yang lain juga diterjemahkan pada abad 12 oleh Robert,
matematikawan dari Chester, Ingrris, dengan judul Liber Algebras et
Al-mucabola (Buku Aljabar dan Perbandingan), yang kemudian diedit oleh
L.C. Karpinski, seorang matematikawan dari New York, Amerika Serikat.
Gerard dari Cremona (1114–1187) seorang matematikawan Italia, membuat
versi kedua dari buku Liber Algebras dengan judul De Jebra et Almucabola
(Aljabar dan Perbandingan). Buku versi Gerard ini lebih baik dan bahkan
mengungguli buku F. Rozen. Karya Al-Khawarizmi banyak mengacu pada
karya Diophantus(250 SM), ilmuwan Yunani, tentang Aljabar. Namun
Al-Khawarizmi menemukan beberapa kesalahan dan permasalahan yang masih
kabur. Kesalahan dan permasalahan itu diperbaiki, dijelaskan, dan
dikembangkan oleh al-Khawarizmi dalam karya-karya aljabarnya. Oleh sebab
itu, tidaklah mengherankan apabila ia dijuluki ”Bapak Aljabar”. Menurut
Gandz, matematikawan Barat dalam bukunya The Source of al-Khawarizmi’s
Algebra, al-Khawarizmi lebih berhak mendapat julukan “Bapak Aljabar”
dibandingkan dengan Diophantus, karena dialah orang pertama yang
mengajarkan aljabar dalam bentuk elementer serta menerapkannya dalam
hal-hal yang berkaitan dengannya.
Al-Khawarizmi juga berjasa dalam bidang trigonometri. Beliau adalah
orang pertama yang memperkenalkan kita kepada fungsi sin, cos, tan.
Beliaulah yang pertama kali menciptakan tabel-tabel trigonometri yang
menjadi rujukan tabel ukuran sudut sampai saat ini. Dalam karyanya yang
berjudul Al-Jabr wa al Muqabalah beliau menciptakan fungsi sec dan tan
dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Buku ini diterjemahkan
oleh oaring barat menjadi rujukan para ilmuwan Eropa seperti Leonardo
Fibonacce dan Jacob Florence.
Di bidang ilmu ukur, al-Khawarizmi juga dikenal sebagai peletak rumus
ilmu ukur dan penyusun daftar logaritma serta hitungan desimal. Namun,
beberapa sarjana matematika Barat, seperti John Napier (1550–1617) dan
Simon Stevin (1548–1620), menganggap penemuan itu merupakan hasil
pemikiran mereka. Beliau juga peletak dasar notasi penempatan bilangan
berbasis 10 dan penggunaan bilangan irasional.
Al-Khawarizmi juga berjasa dalam bidang Astronomi dan Geografi. Beliau
menghasilkan karya Kitab Surah Al-Ard (Buku Gambaran Bumi). Buku itu
memuat daftar koordinat garis bujur dan garis lintang beberapa kota-kota
penting dan ciri-ciri geografisnya, gunung-gunung, laut, pulau dan
sungai-sungai pada peta bumi. Belia adalah orang pertama yang
menciptakan geografi bumi dan menggambarkan peta Benua Afrika. Buku itu
mengacu pada buku Geography karya Claudius Ptolomaeus (100–178), ilmuwan
Yunani. Namun beberapa kesalahan dalam buku tersebut dikoreksi dan
dibetulkan oleh al-Khawarizmi dalam bukunya Zij as-Sindhind. Zij
as-Sindhind adalah karya Al-Khawarizmi yang beliau buat sebelum Kitab
Surah Al-Ard. Buku ini menjelaskan penanggalan, perhitungan letak
matahari, bulan dan planet-planet besar. Selain itu, buku ini juga
menjelaskan tentang peredaran benda-benda angkasa, astrologi,
perhitungan gerhana dan penampakan bulan. Penterjemah karya
al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tak ada seorang
Eropa pun yang dapat menghasilkan karya seperti al-Khawarizmi ini. Pada
masa khalifah Ma’mun, beliau memimpin sebuah tim astronom melakukan
penelitian di Sanjar dan Palmyra untuk mengetahui ukuran bumi dan
bentuknya yang bundar. Jika dibandingkan dengan ukuran diameter bumi
yang kita ketahui saat ini hanya selisih 2,877 kaki. Al Khawarizmi juga
terkenal dengan ilmu falaq yaitu ilmu perbintangan yang melibatkan
kajian tentang kedudukan, pergerakan dan pemikiran serta tafsiran
mengenai bintang. Beliau juga berhasil menyusun buku tentang perhitungan
waktu berdasarkan bayang-bayang matahari.
Selain di bidang matematika, astronomi, geografi, Al-Khawarizmi juga
ahli di bidang music. Di dalam buku matematikanya, beliau juga
menuliskan teori seni music. Buku itu sangat berpengaruh di Eropa dan
dianggap sebagai perkenalan music Arab ke dunia Latin.
Al-Khawarizmi meninggal di Baghdad pada tahun 846 M /262 H. Beliau telah
meninggalkan banyak karya yang bermanfaat untuk kita semua. Seharusnya
kita berterimakasih kepada beliau yang telah menyumbangkan karya-karya
yang sangat berpengaruh di bidang ilmu pengetahuan dan sains.